Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 April 2013

Dokter main pasien


 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Seorang dokter diseret ke sebuah pengadilan di Inggris, lantaran melecehkan seorang pasien wanitanya, selama 13 tahun.

Dr Terence Burley, (63), diadili di Cambridge Crown Court, Selasa (2/10/2012), atas tuduhan melakukan pelecehan seksual terhadap seorang pasien wanitanya, yang rutin berobat kepadanya sejak pertengahan tahun 1990.

Wanita itu menyadari ada sesuatu yang janggal dalam pemeriksaan medis terhadap dirinya, paga tahun 1995, ketika Terence mengatakan ia mendapatkan mimpi erotis bersama dengannya.

Kecurigaannya semakin kuat pada tahun 1997, ketika ia diminta oleh Terence untuk menanggalkan pakaiannya hingga tinggal mengenakan pakaian dalam, lalu mengajaknya menuju ke dalam kamarnya.
Saat itu Terence yang membuka praktik di rumahnya itu, beralasan pasiennya harus membuka seluruh pakaian luarnya guna mempermudah untuk memeriksa penyakit arthritis yang diderita korbannya.

Pada tahun yang sama, Terence, beber korbannya juga sempat meraba payudaranya ketika melakukan pemeriksaan medis, dan mengatakan kedua payudara kliennya sangatlah indah.

Wanita, yang membutuhkan janji reguler untuk mengecek kondisi kesehatannya tersebut, sempat memutuskan untuk mengganti dokter, namun urung dilakukan setelah Terence mengatakan ingin memeriksa kondisinya.

"Dia (Terence) mengatakan hal itu perlu dilakukan untuk memeriksa payudaranya, namun ia menyentuhnya secara seksual. Dan ia berkomentar bahwa kedua payudara wanita itu sangatlah indah," ujar jaksa penuntut dalam kasus itu, Claire Matthews, dikutip dari Dailymail, Rabu (3/10/2012).

Akibatnya, wanita yang namanya dirahasiakan itu, sangat tertekan atas perbuatan yang diterimanya.
"Dia sangat tertekan. Dia sering menangis karenanya," katanya.

Terence warga Peterborough, Cambridgeshire, Inggris mengaku tidak bersalah atas lima tuduhan perbuatan tidak senonoh, dua pelecehan seksual dan satu tuduhan terlibat dalam aktivitas seksual tanpa persetujuan antara 1 Januari 1996 dan Februari 28 Desember 2009.



ada dua berita ternyata .  . .



Metrotvnews.com, Banjarmasin: Seorang dokter spesialis anestesi terancam sanksi tegas dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimantan Selatan terkait dugaan aksi pelecehan seksual terhadap belasan siswa Akademi Keperawatan (Akper) yang sedang praktik magang di RSUD Banjarbaru.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan Rusdiansyah di Banjarmasin, Selasa (12/3), mengatakan saat ini pihaknya bersama IDI maupun pihak Akper tengah melakukan penyelidikan kasus dugaan aksi pelecehan seksual yang dilakukan seorang dokter anestesi itu kepada belasan siswi praktik di RSUD Banjarbaru.

"Kasus dugaan pelecehan seksual ini tengah dalam penyelidikan. Kami ikut prihatin dengan kasus ini dan berharap kasus ini cepat selesai," tuturnya.

Menurut Rusdiansyah, akan ada sanksi tegas terhadap dokter pelaku pelecehan seksual jika terbukti benar. Selanjutnya, perlu ada koordinasi bersama antara IDI dan pihak Akper agar permasalahan ini cepat selesai.

Awal Maret lalu, mencuat kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan seorang dokter spesialis di RSUD Banjarbaru terhadap belasan siswi Akper praktik magang.

Sekretaris RSUD Banjarbaru Muhammad Noor mengatakan, kasus itu telah dilaporkan kepada Wali Kota Banjarbaru untuk segera diselesaikan. Dia menambahkan, sang dokter pun telah diperiksa Komite Medik dan kini berstatus dikarantina.

Sedangkan pihak keluarga siswi Akper yang menjadi korban pelecehan seksual sang dokter, berencana melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. (Denny S)


Editor: Henri Salomo Siagian

Kamis, 26 April 2012

Kenali Spesialisasi Dokter Anda

Profesi dokter kini terbagi dalam bermacam-macam spesialisasi dan subspesialisasi. Sebagai konsumen kesehatan hendaknya kita mengetahuinya meskipun takperlu tahu semuanya sebelum kita berobat. Spesialisasi dasar terbagi menjadi Penyakit Dalam, Anak, Bedah, Obstetri & Ginekologi. Lebih mendalam lagi ada subspesialisasi lagi di dalam spesialisasi ini. Berikut ini daftar spesialisasi dan subspesialisasi tersebut : Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) Dokter ini disebut juga sebagai internist. Tugas dokter ini yaitu menangani segala penyakit terkait dengan seputar organ dalam,tanpa bedah. Subspesialisasi Gelar Subspesialis Bidang keahlian Sp.PD-KGH Konsultan Ginjal-Hipertensi Ginjal dan hipertensi Sp.PD-KHOM Konsultan Hematologi-Onkologi Medik Penyakit berkaitan dengan darah dan kanker SP.PD-KAI Konsultan Alergi-Imunologi Klinik Alergi dan masalah kekebalan tubuh Sp.PD-KGEH Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi System pencernaan dan hati S.PD-KGer Konsultan Geriatri Penuaan pada pasien usia lanjut di atas 65 tahun Sp.PD-KH Konsultan hepatologi Penyakit berkaitan dengan fungsi hati,misalnya hepatitis Sp.PD-KEMD Konsultan Endikrin-Metabolik-Diabetes Berkaitan dengan hormon seperti diabetes Sp.PD-KPsi Konsultan Psikosomatik Penyakit akibat masalah kejiwaan,misalnya penyakit mag atau jantung akibat kecemasan Sp.PD-KP Konsultan pulmonologi Penyakit paru-paru dan jalur pernafasan Sp.PD-KR Konsultan Reumatologi Rematik dan sejenisnya Sp.PD-KPTI Konsultan Penyakit Tropik-Infeksi Infeksi tropis,seperti demam berdarah,malaria,cikugunya, dsb
Spesialis Anak (Sp.A Subspesialisasi dokter anak yang ada di Indonesia terbagi ke dalam bidang-bidang khusu. Sayangnya kita sebagai konsumen tidak bias melihat di gelarnya karena hanya di tulis Sp.A (K) Berikut ini daftar subspesialisasi yang ada pada dokter anak. Subspesialis Bidang Keahlian Prinatologi Bayi baru lahir,bayi beresiko tinggi dan berat badan rendah Gastro-Hopatologi Pencarnaan dan hati anak Neurologi Saraf anak,seperti,anak kejang,infeksi saraf,dan at\utisme Kardiologi Seputan jantung anak Pulmonolagi Pernafasan anak, misalnya asma, bronchitis, pneumonia,tuberkolusis,dsb. Endokrinologi Gangguan hormon,misalnya anakpendek, obesitas, diabetes pada anak, tiroid hingga pubertas Hematologi dan Onkologi Seputar darah dan penyakit keganasan seperti talasemia, hemophilia, dan leukimia Nefrologi Ginjal dan saluran kencing, misalnya infeksi saluran kemih, gagal ginjal, cuci darah, dsb Infeksi Tropis Penyakit infeksi tropis,misalnya demam berdarah, malaria,tifus (demem tifoid) Alergi Imunologi Alergi dan masalah tubuh, termasuk AIDS pada anak Nutrisi Metabolik Gizi dan penyakit metabolik bawaan Pediatri Sosial / Tumbuh Kembang Anak Tumbuh kembang dan psikologi anak Pediatri Gawat Darurat Masalah gawat darurat, seperti anak tersedak benda asing, sulit bernafas, cedera akibat terjatuh Pencitraan Pecitraan, seperti USG, CT-scan, dan rontgen
Spesialisasi Bedah (Sp.B) Terdapat beberapa subspesialisasi pada spesialisasi bedah ini, yaitu : Gelar Subspesialis Bidang keahlian Sp.B KDB Bedah Konsultan Bedah Digestif Bedah saluran cerna Sp.B K.Onk Bedah Konsultan Onkologi Bedah tumor dan kanker Sp.B KV Bedah Konsultan Vaskuler Bedah pembuluh darah Sp.OT Spesialis Orthopedi dan Traumatologi Bedah tulang Sp.OT K.Spine Spesialis Orthopedi dan Traumatologi Konsultan Spine Subspesialis dari dokter bedah orthopedic, khusus tulang punggung Sp.BS Bedah Syaraf Bedah otak dan syaraf Sp.BA Bedah Anak Bedah pada pasien di bawah 16 tahun Sp.BP Bedah Plastik Bedah estetik (misalnya memancungkan hidung) dan bedah rehabilitative (misalnya bedah akibat luka bakar) Sp.BU Bedah Urologi Bedah saluran kemih Sp.BTKV Bedah Thorak dan Kardiovaskuler Bedah dada dan jantung (missal pada operasi jantung)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Sp.OG) Ini adalah sebutan untuk dokter spesialis kebidanan dan kandungan, serta ahli masaah kesehatan reproduksi wanita. Didalamnya terdapat beberapa cabang subspesialis yaitu : Gelar Subspesialis Bidang keahlian Sp.OG K.Onk Onkologi Ahi kanker atau tumor kandungan Sp.OG KFER Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Ahli masalah hormon dan kesuburan Sp.OG KFM Fatomaternal Ahli dalam masalah kehamilan dengan resio tinggi, serta masalah kesehatan ibu dan janin
Selain empat pelayanan medik dasar tersebut di atas juga terdapat spesialisasi berdasarkan organ tubuh dan bidang medis lainnya. Diantaranya : Gelar Spesialis Sp.M Mata Sp.THT Telinga Hidung Tenggorok Sp.JP Jantung dan Pembuluh Darah Sp.S Saraf Sp.And Andrologi (reproduksi pria) Gelar Sp.KK Kulit dan kelamin Sp.Paru Paru Sp.KJ Kedokteran jiwa Sp.F Kedokteran forensic Sp.Akp Akupuntur
Spesialis Penunjang Medik Dalam menjalankan tugas,dokter spesialis tidak bekerja sendiri. Penyakit tertentu membutuhkan kerjasama antara beberapa dokter spesialis dan perawat. Sebagai contoh, dokter spesialisasi bedah membutuhkan dokter maupun perawat anestesi dalam peaksanaan operasi. Oleh sebab itu,dibutuhkan pelayanan dokter spesialis penunjang medik, yaitu: Gelar Spesialisasi Bidang keahlian Sp.RM Rehabilitasi Medik Ahli rehabilitasi organ yang mengalami gangguan akibat penyakit, misalnya pada pasien pasca strokeyang kesulitan bicara dan berjalan Sp.An Anestesiologi Ahli pembiusan Sp.R Radiologi Ahli pemeriksaan medis seperti foto rontgen,Ct-Sca,MRI, dan radio terapi pada pasien kanker Sp.PK Patologi Klinik Ahli interpretasi pemeriksaan laboratorium pasien, misalnya pemeriksaan darah dan air seni Sp.PA Patologi Anatomi Ahli pemeriksaan sel dan jaringan tubuh, misalnya pemeriksaan untuk membedakan tumor jinak atau kanker ganas di payudara
Pilih dokter yang mana? Seringkali anda bingung ketika harus berkonsultasi dengan dokter spesialis saat anda menderita suatu penyakit. Langkah pertama,sebaiknya anda berkonsultasi berkonsultasi pada dokter umum atau dokter spesialis yang mencakup bidang yang lebih umum terlebih dahulu, bisa juga berkonsultasi dengan perawat anda dan mengkomunikasikan mana yang harus di pilih. Setelah mengetahui riwayat penyakit, tentunya anda akan diberikan rujukan pada dokter spesialis yang lebih spesifik. Tidak semua subspesialisasi diatas terdapat di satu rumahsakit. Dokter punya kewajiban untuk merujuk pasien kepada dokter yang lebih ahli dan lebih berpengalaman jika dia tidak mampu mengobati. Kemampuan,ketrampilan, dan pengetahuan seorang dokter tentu berbeda-beda meskipun memiliki bidang spesialisasi yang sama. Selain berkonsultasi dengan dokter, pasienpun dituntut bersikap kritis terkait diagnosis dan pengobatan, salah satunya dengan cara mencari pendapat kedua (second opinion) dari dokter lain dengan keahlian sama maupun keahlian yang berbeda maupun dari perawat anda. Dengan mencari second opinion pasien diharapkan bisa mengambil keputusan yang tepat terkait penanganan medis yang ia pilih. Sumber : INTISARI

Kamis, 19 April 2012

GANGGUAN PENCIUMAN/PENGHINDU

September 25, 2008 oleh Dr. Kris

PENDAHULUAN
Indera penghidu/pembau yang merupakan fungsi saraf olfaktorius (N.I), sangat erat hubungannya dengan indera pengecap yang dilakukan oleh saraf trigeminus (N.V), karena seringkali kedua sensoris ini bekerja bersama-sama. Reseptor organ penghidu terdapat di regio olfaktorius dihidung bagian sepetiga atas. Serabut saraf olfaktorius berjalan melalui lubang-lubang pada lamina kribrosa os etmoid menuju bulbus olfaktorius didasar fosa kranii anterior (1).
Hilangnya fungsi pembauan dan/atau pengecapan dapat mengancam jiwa penderita karena penderita tak mampu mendeteksi asap saat kebakaran atau tidak dapat mengenali makanan yang telah basi. Karena sekitar 80% gangguan pengecapan merupakan kelainan pembauan yang sejati maka artikel ini terutama difokuskan pada fungsi pembauan dan penurunannya. (2)
Hasil survei tahun 1994 menunjukkan bahwa 2,7 juta penduduk dewasa Amerika menderita gangguan pembauan, sementara 1,1 juta dinyatakan menderita gangguan pengecapan. Penelitian yang dilakukan sebelumnya menemukan bahwa 66% penduduk merasakan bahwa mereka pernah mengalami penurunan ketajaman pembauan. (2,3)


Terminologi. (2)
Gangguan pembauan disebut dengan “osmia”.
Gangguan Pembauan.
? Anosmia : tidak bisa mendeteksi bau
? hiposmia : penurunan kemampuan dalam mendeteksi bau
? disosmia : distorsi identifikasi bau
? Parosmia : perubahan persepsi pembauan meskipun terdapat sumber bau, biasanya bau tidak enak.
? Phantosmia : persepsi bau tanpa adanya sumber bau
? Agnosia : tidak bisa menyebutkan atau membedakan bau, walaupun penderita dapat mendeteksi bau.

Gangguan pembauan dapat bersifat total (seluruh bau), parsial (hanya sejumlah bau), atau spesifik (hanya satu atau sejumlah kecil bau).

ANATOMI DAN FISIOLOGI (4,5)
Neuroepitel olfaktorius terletak di bagian atas rongga hidung di dekat cribiform plate, septum nasi superior dan dinding nasal superolateral. Struktur ini merupakan neuroepitelium pseudostratified khusus yang didalamnya terdapat reseptor olfaktorius utama. Pada neonatus, daerah ini merupakan suatu lembar neural yang padat, namun pada anak-anak dan dewasa terbentuk interdigitasi antara jaringan respiratorius dan olfaktorius.Dengan bertambahnya usia seseorang, jumlah neuron olfaktorius ini lambat laun akan berkurang. Selain neuron olfaktorius, epitel ini juga tersusun oleh sel-sel penopang yaitu duktus dan glandula Bowman yang sifatnya unik pada epitel olfaktorius dan sel basal yang berfungsi pada regenerasi epitel.
Sensasi pembauan diperantarai oleh stimulasi sel reseptor olfaktorius oleh bahan-bahan kimia yang mudah menguap. Untuk dapat menstimulasi reseptor olfaktorius, molekul yang terdapat dalam udara harus mengalir melalui rongga hidung dengan arus udara yang cukup turbulen dan bersentuhan dengan reseptor. Faktor-faktor yang menentukan efektivitas stimulasi bau meliputi durasi, volume dan kecepatan menghirup. Tiap sel reseptor olfaktorius merupakan neuron bipolar sensorik utama. Dalam rongga hidung rata-rata terdapat lebih dari 100 juta reseptor. Neuron olfaktorius bersifat unik karena secara terus menerus dihasilkan oleh sel-sel basal yang terletak dibawahnya. Sel-sel reseptor baru dihasilkan kurang lebih setiap 30-60 hari. Reseptor odorant termasuk bagian dari G-protein receptor superfamily yang berhubungan dengan adenilat siklase. Manusia memiliki beratus-ratus reseptor olfaktorius yang berbeda, namun tiap neuron hanya mengekspresikan satu tipe reseptor. Inilah yang mendasari dibuatnya peta pembauan (olfactory map). Neuron yang menyerupai reseptor yang terdapat di epitel mengirimkan akson yang kemudian menyatu dalam akson gabungan pada fila olfaktoria didalam epitel.

PATOGENESIS (4).
Aspek-aspek molekuler dari penciuman kini telah dipahami. Pada mammalia, kemungkinan ada 300-1000 gen reseptor penciuman yang termasuk dalam 20 keluarga yang berbeda yang terletak di berbagai kromosom dalam kelompok-kelompok. Gen-gen reseptor ditemukan pada lebih dari 25 lokasi kromosom manusia. Protein-protein reseptor penciuman adalah reseptor-reseptor tergabung protein G yang ditandai oleh keberadaan domain transmembran 7 alfa-helikal. Masing-masing neuron penciuman hanya mengekspresikan satu, atau paling banyak beberapa, gen reseptor, menjadi dasar molekuler untuk pembedaan bau. Maka sistem penciuman ditandai oleh tiga hal yang penting: (1) keluarga gen reseptor yang besar yang menunjukkan keberagaman yang sangat baik sehingga memungkinkan respon terhadap berbagai bau, (2) protein-protein reseptor yang menunjukkan spesifitas yang hebat sehingga memungkinkan pembedaan bau, dan (3) hubungan-hubungan bau disimpan dalam ingatan lama sesudah peristiwa terjadinya paparan dilupakan.

ETIOLOGI (4,6).
Disfungsi pembauan
Gangguan pembauan dapat disebabkan oleh proses-proses patologis di sepanjang jalur olfaktorius. Kelainan ini dianggap serupa dengan gangguan pendengaran yaitu berupa defek konduktif atau sensorineural. Pada defek konduktif (transport) terjadi gangguan transmisi stimulus bau menuju neuroepitel olfaktorius. Pada defek sensorineural prosesnya melibatkan struktur saraf yang lebih sentral. Secara keseluruhan, penyebab defisit pembauan yang utama adalah penyakit pada rongga hidung dan/atau sinus, sebelum terjadinya infeksi saluran nafas atas karena virus; dan trauma kepala. (2).
Defek konduktif
1. Proses inflamasi/peradangan dapat mengakibatkan gangguan pembauan. Kelainannya meliputi rhinitis (radang hidung) dari berbagai macam tipe, termasuk rhinitis alergika, akut, atau toksik (misalnya pada pemakaian kokain). Penyakit sinus kronik menyebabkan penyakit mukosa yang progresif dan seringkali diikuti dengan penurunan fungsi pembauan meski telah dilakukan intervensi medis, alergis dan pembedahan secara agresif.
2. Adanya massa/tumor dapat menyumbat rongga hidung sehingga menghalangi aliran odorant ke epitel olfaktorius. Kelainannya meliputi polip nasal (paling sering), inverting papilloma, dan keganasan.
3. Abnormalitas developmental (misalnya ensefalokel, kista dermoid) juga dapat menyebabkan obstruksi.
4. Pasien pasca laringektomi atau trakheotomi dapat menderita hiposmia karena berkurang atau tidak adanya aliran udara yang melalui hidung. Pasien anak dengan trakheotomi dan dipasang kanula pada usia yang sangat muda dan dalam jangka waktu yang lama kadang tetap menderita gangguan pembauan meski telah dilakukan dekanulasi, hal ini terjadi karena tidak adanya stimulasi sistem olfaktorius pada usia yang dini.

Defek sentral/sensorineural
1. Proses infeksi/inflamasi menyebabkan defek sentral dan gangguan pada transmisi sinyal. Kelainannya meliputi infeksi virus (yang merusak neuroepitel), sarkoidosis (mempengaruhi stuktur saraf), Wegener granulomatosis, dan sklerosis multipel.
2. Penyebab kongenital menyebabkan hilangnya struktur saraf. Kallman syndrome ditandai oleh anosmia akibat kegagalan ontogenesis struktur olfakorius dan hipogonadisme hipogonadotropik. Salahsatu penelitian juga menemukan bahwa pada Kallman syndrome tidak terbentuk VNO.
3. Gangguan endokrin (hipotiroidisme, hipoadrenalisme, DM) berpengaruh pada fungsi pembauan.
4. Trauma kepala, operasi otak, atau perdarahan subarakhnoid dapat menyebabkan regangan, kerusakan atau terpotongnya fila olfaktoria yang halus dan mengakibatkan anosmia.
5. Disfungsi pembauan juga dapat disebabkan oleh toksisitas dari obat-obatan sistemik atau inhalasi (aminoglikosida, formaldehid). Banyak obat-obatan dan senyawa yang dapat mengubah sensitivitas bau, diantaranya alkohol, nikotin, bahan terlarut organik, dan pengolesan garam zink secara langsung.
6. Defisiensi gizi (vitamin A, thiamin, zink) terbukti dapat mempengaruhi pembauan.
7. Jumlah serabut pada bulbus olfaktorius berkurang dengan laju 1% per tahun. Berkurangnya struktur bulbus olfaktorius ini dapat terjadi sekunder karena berkurangnya sel-sel sensorik pada mukosa olfaktorius dan penurunan fungsi proses kognitif di susunan saraf pusat.
8. Proses degeneratif pada sistem saraf pusat (penyakit Parkinson, Alzheimer disease, proses penuaan normal) dapat menyebabkan hiposmia. Pada kasus Alzheimer disease, hilangnya fungsi pembauan kadang merupakan gejala pertama dari proses penyakitnya. Sejalan dengan proses penuaan, berkurangnya fungsi pembauan lebih berat daripada fungsi pengecapan, dimana penurunannya nampak paling menonjol selama usia dekade ketujuh.
Walau dahulu pernah dianggap sebagai defek konduktif murni akibat adanya edema mukosa dan pembentukan polip, rhinosinusitis kronik nampaknya juga menyebabkan kerusakan neuroepitel disertai hilangnya reseptor olfaktorius yang pemanen melalui upregulated apoptosis.


DIAGNOSIS GANGGUAN PEMBAUAN (2).
Tahapan pertama dalam mendiagnosis adalah melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Berikan penekanan khusus pada riwayat URI, patologi hidung atau sinus, riwayat trauma, masalah medis lainnya, dan obat-obatan yang diminum.
Lakukan CT scan jika dipandang perlu. Pada umumnya, berkurangnya fungsi pembauan tanpa disertei gejala susunan saraf pusat atau pemeriksaan neurologis yang abnormal sangat kecil kemungkinannya berhubungan dengan massa intrakranial seperti meningioma. Kendati demikian seringkali dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan MRI apabila riwayat penyakitnya tidak mendukung atau ditemukan gejala dan tanda neurologis sekunder. Walau tidak dianjurkan untuk melakkan pemeriksaan laboratorium standard namun dapat dilakukan pemeriksaan alergi, DM, fungsi tiroid, fungsi ginjal dan hepar, fungsi endokrin, dan defisiensi gizi berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Biopsi epitel olfaktorius merupakan suatu teknik dalam riset.
A. Tanda dan Gejala
Mengetahui awitan dan perkembangan kelainan penciuman dapat menjadi hal yang sangat penting untuk menegakkan diagnosis etiologik. Anosmia unilateral jarang menjadi keluhan; ia hanya dapat dikenali dengan menguji bau secara terpisah pada masing-masing lubang hidung. Anosmia bilateral, di lain pihak, membuat pasien mencari pertolongan dokter. Pasien-pasien anosmik biasanya mengeluhkan hilangnya kemampuan merasa meskipun ambang rasanya mungkin berada pada kisaran normal. Pada kenyataannya, mereka mengeluhkan hilangnya deteksi rasa, yang sebagian besar merupakan fungsi dari penciuman. (2,4)
B. Temuan Fisik
Pemeriksaan fisik harus meliputi pemeriksaan lengkap pada telinga, saluran napas bagian atas, kepala, dan leher. Kelainan pada masing-masing daerah kepala dan leher dapat menyebabkan disfungsi penciuman. Keberadaan otitis media serosa dapat menunjukkan adanya massa nasofaring atau peradangan. Pemeriksaan hidung yang seksama untuk mencari massa hidung, jendalan darah, polip, dan peradangan membran hidung sangat penting. Bila ada, rinoskopi anterior harus ditunjang dengan pemeriksaan endoskopik pada rongga hidung dan nasofaring. Keberadaan telekantus pada pemeriksaan mata dapat mengarah ke massa atau peradangan di sinus. Massa nasofaring yang menonjol ke rongga mulut atau drainase purulen di orofaring dapat ditemukan pada pemeriksaan mulut. Leher harus dipalpasi untuk mencari massa atau pembesaran tiroid. Pemeriksaan saraf yang menekankan pada nervus kranialis dan fungsi sensorimotorik sangat penting. Mood pasien secara umum harus dinilai dan tanda-tanda depresi harus dicatat. (4)C. Temuan Laboratorium
Telah dikembangkan teknik-teknik untuk biopsi neuroepitelium olfaktorius. Namun, karena degenerasi neuroepitelium olfaktorius yang luas dan interkalasi epitel pernapasan pada daerah penciuman orang dewasa tanpa disfungsi penciuman yang jelas, material biopsi harus diinterpretasikan dengan hati-hati. (4)
D. Pencitraan
CT scan atau MRI kepala dibutuhkan untuk menyingkirkan neoplasma pada fossa kranii anterior, fraktur fossa kranii anterior yang tak diduga sebelumnya, sinusitis paranasalis, dan neoplasma pada rongga hidung dan sinus paranasalis. Kelainan tulang paling bagus dilihat melalui CT, sedangkan MRI bermanfaat untuk mengevaluasi bulbus olfaktorius, ventrikel, dan jaringan-jaringan lunak lainnya di otak. CT koronal paling baik untuk memeriksa anatomi dan penyakit pada lempeng kribiformis, fossa kranii anterior, dan sinus. (4)
E. Pemeriksaan Sensorik (2).
Pemeriksaan sensorik fungsi penciuman dibutuhkan untuk (1) memastikan keluhan pasien, (2) mengevaluasi kemanjuran terapi, dan (3) menentukan derajat gangguan permanen.

1. Langkah pertama menentukan sensasi kualitatif
Langkah pertama dalam pemeriksaan sensorik adalah menentukan derajat sejauh mana keberadaan sensasi kualitatif. Beberapa metode sudah tersedia untuk pemeriksaan penciuman.
a. Tes Odor stix – Tes Odor stix menggunakan sebuah pena ajaib mirip spidol yang menghasilkan bau-bauan. Pena ini dipegang dalam jarak sekitar 3-6 inci dari hidung pasien untuk memeriksa persepsi bau oleh pasien secara kasar.
b. Tes alkohol 12 inci – Satu lagi tes yang memeriksa persepsi kasar terhadap bau, tes alkohol 12 inci, menggunakan paket alkohol isopropil yang baru saja dibuka dan dipegang pada jarak sekitar 12 inci dari hidung pasien.
c. Scratch and sniff card (Kartu gesek dan cium) – Tersedia scratch and sniff card yang mengandung 3 bau untuk menguji penciuman secara kasar.
d. The University of Pennsylvania Smell Identification Test (UPSIT) – Tes yang jauh lebih baik dibanding yang lain adalah UPSIT; ia sangat dianjurkan untuk pemeriksaan pasien dengan gangguan penciuman. Tes ini menggunakan 40 item pilihan-ganda yang berisi bau-bauan scratch and sniff berkapsul mikro. Sebagai contoh, salah satu itemnya berbunyi “Bau ini paling mirip seperti bau (a) coklat, (b) pisang, (c) bawang putih, atau (d) jus buah,” dan pasien diharuskan menjawab salah satu dari pilihan jawaban yang ada. Tes ini sangat reliabel (reliabilitas tes-retes jangka pendek r = 0,95) dan sensitif terhadap perbedaan usia dan jenis kelamin. Tes ini merupakan penentuan kuantitatif yang akurat untuk derajat relatif defisit penciuman. Orang-orang yang kehilangan seluruh fungsi penciumannya akan mencapai skor pada kisaran 7-19 dari maksimal 40. Skor rata-rata untuk pasien-pasien anosmia total sedikit lebih tinggi dibanding yang diperkirakan menurut peluang saja karena dimasukannya sejumlah bau-bauan yang beraksi melalui rangsangan trigeminal.
2. Langkah ke-dua menentukan ambang deteksi
Setelah dokter menentukan derajat sejauh mana keberadaan sensasi kualitatif, langkah kedua pada pemeriksaan sensorik adalah menetapkan ambang deteksi untuk bau alkohol feniletil. Ambang ini ditetapkan menggunakan rangsangan bertingkat. Sensitivitas untuk masing-masing lubang hidung ditentukan dengan ambang deteksi untuk fenil-teil metil etil karbinol. Tahanan hidung juga dapat diukur dengan rinomanometri anterior untuk masing-masing sisi hidung.

TERAPI (4)
A. Kurang Penciuman Hantaran
Terapi bagi pasien-pasien dengan kurang penciuman hantaran akibat rinitis alergi, rinitis dan sinusitis bakterial, polip, neoplasma, dan kelainan-kelainan struktural pada rongga hidung dapat dilakukan secara rasional dan dengan kemungkinan perbaikan yang tinggi. Terapi berikut ini seringkali efektif dalam memulihkan sensasi terhadap bau: (1) pengelolaan alergi; (2) terapi antibiotik; (3) terapi glukokortikoid sistemik dan topikal; dan (4) operasi untuk polip nasal, deviasi septum nasal, dan sinusitis hiperplastik kronik.
B. Kurang Penciuman Sensorineural
Tidak ada terapi dengan kemanjuran yang telah terbukti bagi kurang penciuman sensorineural. Untungnya, penyembuhan spontan sering terjadi. Sebagian dokter menganjurkan terapi seng dan vitamin. Defisiensi seng yang mencolok tak diragukan lagi dapat menyebabkan kehilangan dan gangguan sensasi bau, namun bukan merupakan masalah klinis kecuali di daerah-daerah geografik yang sangat kekurangan. Terapi vitamin sebagian besar dalam bentuk vitamin A. Degenerasi epitel akibat defisiensi vitamin A dapat menyebabkan anosmia, namun defisiensi vitamin A bukanlah masalah klinis yang sering ditemukan di negara-negara barat. Pajanan pada rokok dan bahan-bahan kimia beracun di udara yang lain dapat menyebabkan metaplasia epitel penciuman. Penyembuhan spontan dapat terjadi bila faktor pencetusnya dihilangkan; karenanya, konseling pasien sangat membantu pada kasus-kasus ini. (4)
C. Kurang Penciuman Akibat Penuaan (Presbiosmia)
Seperti dijelaskan sebelumnya, lebih dari separuh orang yang berusia di atas 60 tahun menderita disfungsi penciuman. Belum ada terapi yang efektif untuk presbiosmia namun sangat penting untuk membicarakan masalah ini dengan pasien-pasien usia lanjut; dapat menenangkan bagi pasien ketika seorang dokter mengenali dan membicarakan bahwa gangguan penciuman memang umum terjadi. Selain itu, manfaat langsung dapat diperoleh dengan mengidentifikasi masalah tersebut sejak dini; insidensi kecelakaan akibat gas alam sangat tinggi pada usia lanjut, kemungkinan sebagian karena penurunan kemampuan membau secara bertahap. Merkaptan, bau busuk pada gas alam, adalah perangsang olfaktorius, bukan trigeminal. Banyak pasien yang lebih tua dengan disfungsi penciuman mengalami penurunan sensasi rasa dan lebih suka memakan makanan-makanan yang lebih kaya rasa. Metode yang paling umum adalah meningkatkan jumlah garam dalam diitnya. Konseling dengan seksama dapat membantu pasien-pasien ini mengembangkan strategi-strategi yang sehat untuk mengatasi gangguan kemampuan membaunya.

PROGNOSIS. (4)
Hasil akhir disfungsi penciuman sebagian besar bergantung pada etiologinya. Disfungsi penciuman akibat sumbatan yang disebabkan oleh polip, neoplasma, pembengkakan mukosa, atau deviasi septum dapat disembuhkan. (2,4,5) Bila sumbatan tadi dihilangkan, kemampuan penciuman semestinya kembali. Sebagian besar pasien yang kehilangan indra penciumannya selama menderita infeksi saluran napas bagian atas sembuh sempurna kemampuan penciumannya; namun, sebagian kecil pasien tak pernah sembuh setelah gejala-gejala ISPA lainnya membaik. Karena alasan-alasan yang belum jelas, pasien-pasien ini sebagian besar adalah wanita pada dekade keempat, kelima, dan keenam kehidupannya. Prognosis penyembuhannya biasanya buruk. Kemampuan dan ambang pengenalan bau secara progresif turun seiring bertambahnya usia. Trauma kepala di daerah frontal paling sering menyebabkan kurang penciuman, meskipun anosmia total lima kali lebih sering terjadi pada benturan terhadap oksipital. Penyembuhan fungsi penciuman setelah cedera kepala traumatik hanyalah 10% dan kualitas kemampuan penciuman setelah perbaikan biasanya buruk. Pajanan terhadap racun-racun seperti rokok dapat menyebabkan metaplasia epitel penciuman. Penyembuhan dapat terjadi dengan penghilangan bahan penyebabnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mangunkusumo E. Gangguan Penghidu. In : Soepardi EA, Iskandar N editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. 5 th ed. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI, 2006; p.130-131.
2. Leopold DA, Holbrook EH, Noell CA, Mabry RL, Disorders of Taste and Smell. 2006 :1-8. http://www.emedicine.com.
3. Hoffman HJ, Ishii EK, MacTurk RH, Age-related changes in: the prevalence of smell / taste problems among the United States adult population. Results of the 1994 disability supplement to the National Health Interview Survey (NHIS). Ann N Y Acad Sci 1998 Nov 30; 855: 716-22.
4. Lalwani AK, Mafong DD, Olfactory Dysfungtion. In: Lalwani AK editor. a Lange Madical Book Current Diagnosis & Treament In Otolaryngology Head and Neck Surgery.64 Th ed. New York: Mc Graw Hill, 2004 ; p.239-243.
5. Doty RL, Deems DA, Olfactory Function and Dysfunction In : Bailey BJ, Calhoun KH, Healy GB et al Editors. Texbooks Bailey Head and Neck Surgery Otolaryngology. 3 th ed. Philadelphia: Lippincott William & Wilkins, 2001; p.246-260.
6. Devanand DP, Michaels-Marston KS, Liu X, et al: Olfactory deficits in patients with mild cognitive impairment predict Alzheimer’s disease at follow-up. Am J Psychiatry 2000 Sep; 157(9): 1399-405.
7.http://thtkl.wordpress

Selasa, 10 April 2012

Telinga Hidung Tenggorokan

Lokasi dan fungsi dari telinga, hidung dan tenggorokan berhubungan erat.
Kelainan pada organ-organ tersebut didiagnosis dan diobati oleh dokter spesialis yang disebut otolaringologis.


TELINGA

Telinga merupakan organ untuk pendengaran dan keseimbangan, yang terdiri dari telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.
Telinga luar menangkap gelombang suara yang dirubah menjadi energi mekanis oleh telinga tengah. Telinga tengah merubah energi mekanis menjadi gelombang saraf, yang kemudian dihantarkan ke otak. Telinga dalam juga membantu menjaga keseimbangan tubuh.

Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna atau aurikel) dan saluran telinga (meatus auditorius eksternus).
Telinga luar merupakan tulang rawan (kartilago) yang dilapisi oleh kulit, daun telinga kaku tetapi juga lentur.

Suara yang ditangkap oleh daun telinga mengalir melalui saluran telinga ke gendang telinga.
Gendang telinga adalah selaput tipis yang dilapisi oleh kulit, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga luar.

Telinga Tengah

Teling tengah terdiri dari gendang telinga (membran timpani) dan sebuah ruang kecil berisi udara yang memiliki 3 tulang kecil yang menghubungkan gendang telinga dengan telinga dalam.
Ketiga tulang tersebut adalah:
• Maleus (bentuknya seperti palu, melekat pada gendang telinga)
• Inkus (menghugungkan maleus dan stapes)
• Stapes (melekat pda jendela oval di pintu masuk ke telinga dalam).
Getaran dari gendang telinga diperkuat secara mekanik oleh tulang-tulang tersebut dan dihantarkan ke jendela oval.

Telinga tengah juga memiliki 2 otot yang kecil-kecil:
• Otot tensor timpani (melekat pada maleus dan menjaga agar gendang telinga tetap menempel)
• Otot stapedius (melekat pada stapes dan menstabilkan hubungan antara stapedius dengan jendela oval.

Jika telinga menerima suara yang keras, maka otot stapedius akan berkontraksi sehingga rangkaian tulang-tulang semakin kaku dan hanya sedikit suara yang dihantarkan.
Respon ini disebut refleks akustik, yang membantu melindungi telinga dalam yang rapuh dari kerusakan karena suara.

Tuba eustakius adalah saluran kecil yang menghubungkan teling tengah dengan hidung bagian belakang, yang memungkinkan masuknya udara luar ke dalam telinga tengah.
Tuba eustakius membuka ketika kita menelan, sehingga membantu menjaga tekanan udara yang sama pada kedua sisi gendang telinga, yang penting untuk fungsi pendengaran yang normal dan kenyamanan.

Telinga Dalam

Telinga dalam (labirin) adalah suatu struktur yang kompleks, yang terjdiri dari 2 bagian utama:
• Koklea (organ pendengaran)
• Kanalis semisirkuler (organ keseimbangan).

Koklea merupakan saluran berrongga yang berbentuk seperti rumah siput, terdiri dari cairan kental dan organ Corti, yang mengandung ribuan sel-sel kecil (sel rambut) yang memiliki rambut yang mengarah ke dalam cairan tersebut.
Getaran suara yang dihantarkan dari tulang pendengaran di telinga tengah ke jendela oval di telinga dalam menyebabkan bergetarnya cairan dan sel rambut. Sel rambut yang berbeda memberikan respon terhadap frekuensi suara yang berbeda dan merubahnya menjadi gelombang saraf.
Gelombang saraf ini lalu berjalan di sepanjang serat-serat saraf pendengaran yang akan membawanya ke otak.

Walaupun ada perlindungan dari refleks akustik, tetapi suara yang gaduh bisa menyebabkan kerusakan pada sel rambut.
Jika sel rambut rusak, dia tidak akan tumbuh kembali.
Jika telinga terus menerus menerima suara keras maka bisa terjadi kerusakan sel rambut yang progresif dan berkurangnya pendengaran.

Kanalis semisirkuler merupakan 3 saluran yang berisi cairan, yang berfungsi membantu menjaga keseimbangan.
Setiap gerakan kepala menyebabkan ciaran di dalam saluran bergerak.
Gerakan cairan di salah satu saluran bisa lebih besar dari gerakan cairan di saluran lainnya; hal ini tergantung kepada arah pergerakan kepala.

Saluran ini juga mengandung sel rambut yang memberikan respon terhadap gerakan cairan.
Sel rambut ini memprakarsai gelombang saraf yang menyampaikan pesan ke otak, ke arah mana kepala bergerak, sehingga keseimbangan bisa dipertahankan.

Jika terjadi infeksi pada kanalis semisirkuler, (seperti yang terjadi pada infeksi telinga tengah atau flu) maka bisa timbul vertigo (perasaan berputar).


HIDUNG

Hidung merupakan organ penciuman dan jalan utama keluar-masuknya udara dari dan ke paru-paru.
Hidung juga memberikan tambahan resonansi pada suara dan merupakan tempat bermuaranya sinus paranasalis dan saluran air mata.

Hidung bagian atas terdiri dari tulang dan hidung bagian bawah terdiri dari tulang rawan (kartilago).
Di dalam hidung terdapat rongga yang dipisahkan menjadi 2 rongga oleh septum, yang membentang dari lubang hidung sampai ke tenggorokan bagian belakang.

Tulang yang disebut konka nasalis menonjol ke dalam rongga hidung, membentuk sejumlah lipatan.
Lipatan ini menyebabkan bertambah luasnya daerah permukaan yang dilalui udara.

Rongga hidung dilapisi oleh selaput lendir dan pembuluh darah.
Luasnya permukaan dan banyaknya pembuluh darah memungkinkan hidung menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk dengan segera.

Sel-sel pada selaput lendir menghasilkan lendir dan memiliki tonjolan-tonjolan kecil seperti rambut (silia).
Biasanya kotoran yang masuk ke hidung ditangkap oleh lendir, lalu disapu oleh silia ke arah lobang hidung atau ke tenggorokan. Cara ini membantu membersihkan udara sebelum masuk ke dalam paru-paru.
Bersin secara otomatis membersihkan saluran hidung sebagai respon terhadap iritasi, sedangkan batuk membersihkan paru-paru.

Sel-sel penghidu terdapat di rongga hidung bagian atas.
Sel-sel ini memiliki silia yang mengarah ke bawah (ke rongga hidung) dan serat saraf yang mengarah ke atas (ke bulbus olfaktorius, yang merupakan penonjolan pada setiap saraf olfaktorius/saraf penghidu).
Saraf olfaktorius langsung mengarah ke otak.


SINUS PARANASALIS

Tulang di sekitar hidung terdiri dari sinus paranasalis, yang merupakan ruang berrongga dengan lubang yang mengarah ke rongga hidung.
Terdapat 4 kelompok sinus paranasalis:
• Sinus maksilaris
• Sinus etmoidalis
• Sinus frontalis
• Sinus sfenoidalis.

Dengan adanya sinus ini maka:
- berat dari tulang wajah menjadi berkurang
- kekuatan dan bentuk tulang terpelihara
- resonansi suara bertambah.


Sinus dilapisi oleh selapus lendir yang terdiri dari sel-sel penghasil lendir dan silia.
Partikel kotoran yang masuk ditangkap oleh lendir lalu disapu oleh silia ke rongga hidung.
Pengaliran dari sinus bisa tersumbat, sehingga sinus sangat peka terhadap ifneksi dan peradangan (sinusitis).




TENGGOROKAN

Tenggorokan (faring) terletak di belakang mulut, di bawah rongga hidung dan diatas kerongkongan dan tabung udara (trakea).
Tenggorokan terbagi lagi menjadi:
- nasofaring (bagian atas)
- orofaring (bagian tengah)
- hipofaring (bagian bawah.

Tenggorokan merupakan saluran berotot tempat jalannya makanan ke kerongkongan dan tempat jalannya udara ke paru-paru.
Tenggorokan dilapisi oleh selaput lendir yang terdiri dari sel-sel penghasil lendir dan silia.
Kotoran yang masuk ditangkap oleh lendir dan disapu oleh silia ke arah kerongkongan lalu ditelan.

Tonsil (amandel) terletak di mulut bagian belakang, sedangkan adenoid terletak di rongga hidung bagian belakang.
Tonsil dan adenoid terdiri dari jaringan getah bening dan membantu melawan infeksi.
Ukuran terbesar ditemukan pada masa kanak-kanak dan secara perlahan akan menciut.

Pada puncak trakea terdapat kotak suara (laring), yang mengandung pita suara dan berfungsi menghasilkan suara.
Jika mengendur, maka pita suara membentuk lubang berbentuk huruf V sehingga udara bisa lewat dengan bebas.
Jika mengkerut, pita suara akan bergetar, menghasilkan suara yang bisa dirubah oleh lidah, hidung dan mulut sehingga terjadilah percakapan.

Epiglotis merupakan suatu lembaran yang terutama terdiri dari kartilago dan terletak di atas serta di depan laring.
Selama menelan, epiglotis menutup untuk mencegah masuknya makanan dan cairan ke dalam trakea.



sumber :medicastore