Powered By Blogger

Selasa, 05 Juli 2011

Gaji Perawat di Luar Negeri 60 Juta, Mau???

Sekalipun Indonesia belum mempunyai UU Keperawatan, ternyata sudah banyak perawat Indonesia yang bekerja di luar negeri, bahkan gajinya bisa mencapai Rp 60 juta per bulan.

"Soal skill kita tidak kalah dengan perawat asing. Paling soal bahasa dan upgrading keperawatan bidang-bidang tertentu," kata Direktur Kerjasama Luar Negeri Kawasan Asia Pasifik dan Amerika Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Haposan Saragih saat Jumpa Pers Hari Kebangkitan Perawat Indonesia di Jakarta, Senin (11/5). Jumpa pers itu untuk menyambut Hari Perawat Dunia sekaligus pencanangan Hari Kebangkitan Perawat Indonesia esok hari.

Menurut Haposan, sampai saat ini kebutuhan dunia terhadap perawat semakin meningkat. Berikut beberapa negara yang membutuhkan perawat Indonesia, di antaranya Jepang yang membutuhkan 1.000 orang untuk dua tahun (2008-2009), Amerika (1 juta perawat), Kanada (hampir 1 juta orang), dan Inggris (3.000 perawat).

Bagi perawat yang berminat bekerja ke luar negeri, tambahnya, tidak akan mengeluarkan biaya banyak. Sebagai contoh, ia menjelaskan soal proses yang harus dilalui jika ingin menjadi perawat di Jepang. Biaya yang diperlukan Rp 1.100.000 untuk paspor dan pelatihan awal di sana. Tesnya hanya wawancara yang dilakukan oleh perwakilan Jepang di Indonesia.

Soal bahasa, para perawat belajar di Indonesia selama 4 bulan dan 2 bulan di Jepang. "Wawancaranya memakai bahasa Indonesia, ada transleter-nya," jelas Haposan.


Gaji

Terkait dengan gaji yang diterima para perawat Indonesia yang bekerja di luar negeri, Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Prof Achir Yani S Hamid, MN, D.N., Sc menyampaikan, di Kuwait perawat Indonesia yang berjumlah 700-an gajinya berkisar Rp 20 juta- Rp 22 juta dengan biaya hidup ditanggung.

Di Jepang, gaji perawat Indonesia berkisar Rp 11 juta-Rp 17 juta per bulan. "Untuk fasilitasnya beragam. Ada yang ditanggung penuh oleh rumah sakit, ada yang sebagian saja," kata Achir.

Di Belanda gajinya 20-30 juta dan di Amerika Serikat 40-60 juta dengan biaya hidup ditanggung sendiri oleh perawat.

Menurut Achir, ada sekitar 4.000 perawat Indonesia yang bekerja di luar negeri. Untuk itu, lanjutnya, PPNI memberikan perhatian kepada mereka supaya kewajiban dan haknya terjamin. "Kami lobi asosiasi keperawatan di negara di mana perawat kita bekerja supaya para perawat kita dijadikan anggota asosiasi mereka," pungkas Achir.

sumber : Kompas

Senin, 04 Juli 2011

Aku Cinta Indonesia



Detikcom kembali menyelenggarakan program Aku Cinta Indonesia (ACI). Tahun 2011 ini kami mencari 60 orang yang akan dibagi menjadi 20 tim (masing-masing tim 3 orang) untuk disebar ke seluruh penjuru negeri. Seluruh biaya transportasi, akomodasi, dan uang saku yang dibutuhkan dalam perjalanan akan ditanggung oleh detikcom. 20 tim adalah para Petualang ACI yang akan menyebarkan semangat Aku Cinta Indonesia dengan berbagi cerita dan pengalaman.

• Bagaimana cara untuk ikut dalam program ini?

Anda cukup mengisi formulir pendaftaran Masukkan data pribadi, keahlian serta jelaskan mengapa Anda yang harus kami pilih.

• Ada berapa tahapan pada program Aku Cinta Indonesia 2011?
1. Tahap Registrasi (sampai 10 Juli 2011)
2. Pengumuman 750 Semi Finalis
3. Wawancara
4. Pengumuman 60 Petualang ACI
5. Perjalanan 20 Tim ACI ke 20 area (September - Oktober 2011)

• Apa kewajiban saya jika terpilih sebagai salah satu Petualang ACI?
Kewajibannya adalah bersenang-senang dalam perjalanan Anda dan berbagi cerita kepada pembaca detikcom melalui tulisan dan foto.

• Apa yang berbeda dari ACI 2011 ini dibandingkan tahun lalu?
Tahun ini ada 60 Petualang yang terpilih untuk disebar ke 20 area wisata yang belum banyak ter-explore. Masing-masing tim terdiri dari 3 orang. Hadiah yang akan diperebutkan lebih banyak dari tahun lalu:
1. Tim Terbaik dengan hadiah senilai Rp 100 Juta
2. Foto Esai Terbaik (Individual) senilai Rp 25 Juta
3. Tim Favorit pembaca senilai Rp 15 Juta

• Bagaimana cara meraih hadiah utama Rp 100 Juta?
Setelah seluruh perjalanan berakhir, tim dengan catatan perjalanan terbaik menurut penilaian juri (tim redaksi) akan meraih uang tunai Rp 100 Juta.

• Apa yang dimaksud dengan 'Foto Esai (Individual)'?
Masing-masing petualang bercerita kepada pembaca dalam bentuk foto berseri hasil selama perjalanan program Aku Cinta Indonesia. Foto terbaik menurut penilaian juri akan meraih uang senilai Rp 25 Juta.

• Berapa lama dan kapan perjalanan akan berlangsung?
20 tim akan diberangkatkan pada periode perjalanan September - Oktober 2011. Masing-masing akan melakukan perjalanan selama 17-21 hari. Jadi, kalau Anda berstatus karyawan persiapkan cuti Anda!

• Syarat dan Ketentuan
1. Hadiah tidak dapat dialihkan dan tidak dapat ditukar dalam bentuk apapun
2. Penetapan pemenang sifatnya mutlak serta tidak dapat diganggu-gugat
3. Peserta wajib mengikuti aturan main yang ditetapkan pihak penyelenggara
4. Apabila peserta didapati menyalahi aturan main yang ditetapkan maka pihak penyelenggara berhak memberikan sanksi kepada peserta
5. Penyelenggara berhak membatalkan kemenangan peserta dan mengalihkan ke peserta yang lainnya apabila peserta yang telah dinyatakan sebagai pemenang melanggar aturan-aturan yang diberikan
6. Penginformasian data diri pemenang yang tidak akurat dan atau direkayasa akan membatalkan hak kemenangannya
7. Bagi pemenang yang telah dihubungi penyelenggara dan telah dinyatakan keluar sebagai pemenang serta berhak atas hadiah yang telah disebutkan tetapi menolak hadiah dan kemenangan tersebut, maka secara otomatis kemenangan dan hadiah tersebut akan dialihkan kepada calon pemenang berikutnya
8. Periode dan peraturan program dapat berubah sewaktu-waktu oleh pihak penyelenggara tanpa pemberitahuan terlebih dahulu
Untuk informasi lebih lanjut, email: aci@detik.com

Minggu, 03 Juli 2011

Pesan trend Ilmu Giri

Setelah berfikir mengenai tempat unik dan menarik yang saya ketahui di daerah gunung kidul, sesuatu yang terlintas di fikiran saya langsung mengarah ke sebuah lokasi yang bernama desa Kebangsaan. Desa Kebangsaan adalah nama sebuah lokasi yang terletak di Pesan trend Ilmu Giri, dusun Nagasari, Desa Selopamioro, kecamatan imogiri bantul Yogyakarta, yang membutuhkan waktu sekitar satu jam dari pusat kota Yogyakarta. Lokasi nya berada di gunung kidul yang membuat tempat ini terasa sejuk,nyaman dan mempunyai pemandangan yang indah.





Lokasi tersebut merupakan sebuah lokasi yang di rintis oleh HM Nasrudin Anshori.Beliau bekerja sebagai peneliti lepas untuk LP3ES Jakarta,LIPI,LSAF dan P3M untuk kajian sosial budaya dan agama selama hamper satu dasawarsa antara pertengahan tahun 1980-an sampai pertengahan 1990-an. Selain peneliti Beliau juga suka menulis, tulisannya berupa puisi, esay, dan opini dipublikasikan oleh Majalah Prisma, Horison, Editor, Panji Masyarakat, Tempo, Amanah, Kiblat serta sejumlah harian seperti kompas ,Republika, Bisnis Indonesia, The Jakarta Post, Sinar Harapan, Suara Pembaruan,Media Indonesia dan Koran lokal Jogja seperti Kedaulatan Rakyat dan Bernas. Menjadi pembicara pada seminar local,nasional,dan internasional. Beliau juga melakukan “perjalanan budaya” di puluhan negara, melakukan “penelitian sosial” di seluruh provinsi di Indonesia, menjadi stef ahli sejumlah guburnur dan mentri. Beliau juga aktif menulissejumlah buku yang antara lain di terbitkan Pustaka LP3ES Indonesia berjudul Berjuang dari pinggir(1994),Lemhanas berjudul Civil Society : Tantangan dan tentanga(1994)serta sjumlah biografi par jenderal dan menteri. Bersama Dedy Mizwar dan sineas sinetron yang lainmenjadi produser berbagai sinetron antara lain Pelangi di Ufuk Senja (SCTV), Bingkisan Untuk Presiden (RCTI), Lorong Waktu (SCTV) serta sejumlah sinetron idealis yang lain. Setelah hampir 20 tahunan berada di Jakarta dan sejumlah kota besar lain,sejak tahun 2003 menetap di Jogja dan mewakafkan dirinya untuk menemani dan melayani masyarakat miskin,khususnya di bidang konservasi lingkungan dan budaya, pendidikan andragogi untuk kaum pinggiran,serta penggiat social entrepreneurship melalui kearifan local untuk kesejahteraan masyarakat miskin. Kini setiap minggunya mengisi Analisis dan Ulasan bertema social-budaya-agama-lingkungan hidupdi harian Kedaulatan Rakyat dan Jogja TV,mengisi tausiah di RRI, Pro-2 FM, serta menjadi narasumber untuk seminar lokakarya, diskusi,dan pengajian di berbagai tempat. Beliau ini merupakan sosok yang peduli dengan lingkungan melalui program tanam pohn jati yang menurut saya program yang sangat brilian mengingat daerah imogiri merupakan daerah yang bertanah kapur sehinga sesuai bagi pohon jati untuk tumbuh.



Bangunan utamanya terdiri dari dua bangunan utama,satu dapur dan satu masjid yang terletak bersebelahan ini terasa sejuk dan nyaman,dikelilingi pohon jati dan beberapa pohon keras lainnya yang semakin menunjukkan konsep hijaunya. Setelah keluar pintu gerbang kebangsaan kita akan langsung berhadapan dengan pemandangan imogiri yang bisa terlihat dari atas. Tempat ini sering dikujungi mahasiswa untuk kegiatan mereka seperti makrab,pelatihan,dan untuk sekedar belajar.


Jadi bagi anda pecinta tempat unk dan menarik tidak ada salah nya memasukkan tempat ini ke daftar tempat yang anda kunjungi.

Jumat, 03 Juni 2011

Trans Jogja Alat Transportasi Umum Yogyakarta

Apabila di jakarta ada trans jakarta untuk angkutan masal dan mengatasi kemacetan dan di solo ada trans solo atau di sebut juga batik solo trans (BTS),maka di yogjakarta ada yang namanya trans jogja. seperti halnya trans solo, Trans Jogja juga merupakan program untuk meningkatkan pariwisata di Yogyakarta dengan melayani rute-rute menuju lokasi wisata seperti prambanan,malioboro,dan lain-lain. Mungkin kata Trans Jogja masih asing dan terasa kurang populer bila dibandingkan dengan Trans Jakarta,tetapi kontribusi Trans Jogja bagi masyarakat khususnya pengguna alat transportasi umum di Jogja sudah tak diragukan lagi.

Trans Jogja adalah sebuah sistem transportasi bus cepat, murah dan ber-AC di seputar Yogyakarta. Trans Jogja itu sendiri merupakan salah satu bagian dari program penerapan sistem transportasi bus cepat atau Bus Rapid Transit yang dicanangkan Departemen Perhubungan Pemerintah Provinsi DIY. Sistem ini mulai dioperasikan pada awal bulan Maret 2008 oleh Dinas Perhubungan, Pemerintah Provinsi DIY. Motto pelayanannya adalah "Aman, Nyaman, Andal, Terjangkau, dan Ramah lingkungan".
Sejak pertama kali di operasikan pada awal bulan Maret tahun 2008, Trans Jogja telah menarik perhatian publik dan menjadi pilihan alternatif bagi pengguna transportasi umum di Jogjakarta. Hal ini ditunjukkan dengan adanya antusiasme dan peningkatan jumlah penumpang Trans Jogja itu sendiri.
Dalam beberapa kondisi, Trans Jogja menjadi pilihan terbaik dan favorit bagi mereka yang ingin bepergian menggunakan bis di dalam kota Jogjakarta karena harga lebih ekonomis, jam operasional yang panjang, melayani banyak trayek, serta keamanan dan kenyamanan lebih terjamin.

Ekonomis
Trans Jogja bisa dikatakan cukup ekonomis. Tiket tersedia mulai dari harga Rp. 2.000,- sampai dengan Rp. 3.000,- untuk sekali jalan (single trip)
Selain itu, diterapkan sistem pembayaran yang berbeda-beda, yaitu tiket sekali jalan, tiket berlangganan pelajar, dan tiket berlangganan umum. Ada tiga macam tiket yang dapat dibeli oleh penumpang, yaitu tiket sekali jalan (single trip), dan tiket umum berlangganan. Tiket ini berbeda dengan karcis bus biasa karena merupakan merupakan kartu pintar (smart card). Karcis akan diperiksa secara otomatis melalui suatu mesin yang akan membuka pintu secara otomatis. Penumpang dapat berganti bus tanpa harus membayar biaya tambahan, asalkan masih dalam satu tujuan.
Hal yang menjadikan Trans Jogja ini bisa menjadi alternatif lebih murah karena adanya sistim transit antar bis di halte. Ini berbeda dengan moda bis dalam kota yang mengharuskan membayar lagi jika ingin berganti bis. Sebagai catatan, jalur bis kota di dalam kota Jogja menerapkan tarif sebesar Rp. 2.500,-

Jam operasional yang panjang
Trans Jogja beroperasi setiap hari mulai pukul 05.30 sampai dengan 21.30 non-stop. Tetapi dalam waktu-waktu tertentu, Trans Jogja mengalami penyesuaian jadwal. Misalnya ketika pelaksanaan Pemilu dan Hari Raya Idul Adha. Penyesuaian jam operasi ini dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada pihak yang memiliki keperluan di hari/jam tersebut.

Banyak trayek atau rute
Trans Jogja beroperasi melayani 8 buah rute yang berbeda. Rute-rute ini telah diatur untuk menjangkau lokasi-lokasi strategis di Jogjakarta. Tidak semua halte tepat berada di lokasi tujuan, namun rata-rata halte berada tidak jauh dari lokasi tujuan. Jarak dari halte ke lokasi-lokasi lain bisa ditempuh dengan moda transportasi lanjutan seperti jalur bis luar kota, atau untuk jarak yang lebih pendek misalnya bisa dijangkau dengan becak maupun andong. Berikut adalah trayek yang dilalui bus Trans Jogja :
Trayek 1A: Terminal Prambanan - Bandara Adisucipto - Stasiun Tugu - Malioboro - JEC:
Terminal Prambanan - S5. Kalasan - Bandara Adisucipto - S3. Maguwoharjo - Janti (bawah) - S3. UIN Kalijaga - S4. Demangan - S4. Gramedia - S4. Tugu - Stasiun Tugu - Malioboro - S4. Kantor Pos Besar - S4. Gondomanan - S4. Pasar Sentul - S4. SGM - Gembira Loka - S4. Babadan -Gedongkuning - JEC - S4. Blok O - Janti (atas) - S3. Maguwoharjo - Bandara Adisucipto - S5. Kalasan - Terminal Prambanan.

Trayek 1B: Terminal Prambanan - Bandara Adisucipto - JEC - Kantor Pos Besar - Pingit - UGM:
Terminal Prambanan – S5. Kalasan – Bandara Adisucipto – S3. Maguwoharjo – Janti (lewat bawah) – S4. Blok O – JEC - S4. Babadan -Gedongkuning – Gembira Loka – S4. SGM – S4. Pasar Sentul - S4. Gondomanan – S4. Kantor Pos Besar - S3. RS.PKU Muhammadiyah – S3. Pasar Kembang - S4. Badran – Bundaran SAMSAT – S4. Pingit – S4. Tugu – S4. Gramedia – Bundaran UGM – S3. Colombo – S4. Demangan – S3. UIN Sunan Kalijaga – Janti – S3. Maguwoharjo – Bandra Adisucipto – S5. Kalasan – Terminal Prambanan.

Trayek 2A: Terminal Jombor - Malioboro – Basen – Kridosono – UGM – Terminal Condong Catur:
Terminal Jombor - S4. Monjali - S4. Tugu - Stasiun Tugu - Malioboro - S4. Kantor Pos Besar - S4. Gondomanan - S4. Jokteng Wetan - S4. Tungkak - S4. Gambiran - S3 . Basen - S4. Rejowinangun - S4. Babadan Gedongkuning - Gembira Loka - S4. SGM - S3. Cendana - S4. Mandala Krida - S4. Gayam - Flyover Lempuyangan - Kridosono - S4. Duta Wacana - S4. Galeria - S4. Gramedia - Bunderan UGM - S3. Colombo - Terminal Condongcatur - S4. Kentungan - S4. Monjali - Terminal Jombor.

Trayek 2B: Terminal Jombor – Termina Condongcatur – UGM – Kridosono – Basen – Kantor Pos Besar – Wirobrajan - Pingit:
Terminal Jombor – S4. Monjali – S4. Kentungan – Terminal Condong Catur – S3. Colombo – Bundaran UGM – S4. Gramedia – Kridosono – S4. Duta Wacana - Fly-over Lempuyangan - S4. Gayam – S4. Mandala Krida – S3. Cendana – S4. SGM – Gembiraloka– S4. Babadan Gedongkuning – S4. Rejowinangun – S3. Basen – S4.Tungkak – S4. Joktengwetan – S4. Gondomanan – S4. Kantor Pos Besar – S3. RS PKU Muhammadiyah – S4. Ngabean – S4. Wirobrajan – S3. BPK – S4. Badran – Bundaran SAMSAT – S4. Pingit – S4. Tugu – S4. Monjali – Terminal Jombor.

Trayek 3A: Terminal Giwangan – Kotagede – Bandara Adisucipto – Ringroad Utara – MM UGM – Pingit – Malioboro – Jokteng Kulon:
Terminal Giwangan – S4. Tegalgendu – S3. HS-Silver – Jl. Nyi Pembayun - S3. Pegadaian Kotagede – S3. Basen – S4. Rejowinangun – S4. Babadan Gedongkuning – JEC - S4. Blok O – Janti (lewat atas) - S3. Janti – S3. Maguwoharjo - Bandara ADISUCIPTO - S3. Maguwoharjo – Ringroad Utara – Terminal Condongcatur – S4. Kentungan – S4. MM UGM - S4. MirotaKampus – S3. Gondolayu – S4. Tugu – S4. Pingit – Bundaran SAMSAT - S4. Badran – S3. PasarKembang – Stasiun TUGU - Malioboro – S4. Kantor Pos Besar – S3. RS PKU Muhammadiyah – S4. Ngabean – S4. Pojok Beteng Kulon – S4. Plengkung Gading - S4. Pojok Beteng Wetan – S4. Tungkak – S4. Wirosaban – S4. Tegalgendu – Terminal Giwangan.

Trayek 3B: Terminal Giwangan – Jokteng Kulon – Pingit – MM UGM – Ring Road Utara – Bandara Adisucipto – Kotagede:
Terminal Giwangan – S4. Tegalgendu - S4. Wirosaban – S4. Tungkak – S4. Pojok Beteng Wetan – S4. Plengkung Gading - S4. Pojok Beteng Kulon – S4. Ngabean – S3. RS PKU Muhammadiyah – S3. Pasar Kembang – S4. Badran – Bundaran SAMSAT – S4. Pingit – S4. Tugu – S3. Gondolayu – S4. Mirota Kampus – S4. MM UGM - S4. Kentungan – Terminal Condong Catur – Ringroad Utara – S3. Maguwoharjo – Bandara Adisucipto – S3. Maguwoharjo – Flyover Janti (lewat bawah) – S4. Blok O – JEC - S4. Babadan Gedongkuning – S4. Rejowinangun – S3. Basen – S3. Pegadaian Kotagede – Jl. Nyi Pembayun - S3. HS-Silver – S4. Tegalgendu – Terminal Giwangan.

Tayek 4A: Terminal Giwangan - Tamansiswa - Pakualaman - Lempuyangan - Kridosono:
Terminal Giwangan - Jl. Imogiri Timur - Jl. Pramuka - Jl. Perintis Kemerdekaan - Jl. Menteri Supeno - Jl. Taman Siswa - Jl. Sultan Agung - Jl. Gadjah Mada - Jl. Hayam Wuruk - Stadion Kridosono - Jl. Hayam Wuruk - Jl. Gadjah Mada - Jl. Sultan Agung - Jl. Taman Siswa - Jl. Menteri Supeno - Jl. Perintis Kemerdekaan - Jl. Pramuka - Jl. Imogiri Timur - Terminal Giwangan.

Trayek 4B: Terminal Giwangan - XT Square - SGM - Balaikota - UIN - Kridosono - Balai Yasa - UIN:
Terminal Giwangan - Jl. Imogiri Timur - Jl. Pramuka - Jl. Perintis Kemerdekaan - Jl. Veteran - Jl. Pandean - Jl. Glagahsari - Jl. Kusumanegara - Jl. Sidobali - Jl. Ipda Tut Harsono - Jl. Urip Sumoharjo - Jl. Sudirman - Jl. Suroto - Jl. Wardani - Jl. Kusbini - Jl. Langensari - Jl. Urip Sumoharjo - Jl. Ipda Tut Harsono - Jl. Sidobali - Jl. Kusumanegara - Jl. Glagahsari - Jl. Pandean - Jl. Veteran - Jl. Perintis Kemerdekaan - Jl. Pramuka - Jl. Imogiri Timur - Terminal Giwangan

Keamanan lebih terjamin
Setiap calon penumpang yang akan menaiki atau turun dari Trans Jogja harus melalui sebuah halte. Begitupula untuk pembayaran tiket juga dilakukan di halte. Di halte dan dalam armada bis, ada petugas yang akan melayani dan memandu penumpang, sehingga kenyamanan dan keamanan penumpang tejamin. Bis dilengkapi dengan pendingin (AC) dan berhenti di lokasi-lokasi halte yang ditentukan. Penumpang tidak bisa turun kecuali di halte, atau jika ada kejadian khusus yang mengharuskan pelaksanaan operasional lain. Dan yang paling menarik dari non-smoker yaitu penumpang tidak diperkenankan untuk merokok di dalam bis.

"image source from google"

Selasa, 05 April 2011

SEJARAH KERATON YOGYAKRTA

KRATON Yogyakarta dibangun tahun 1756 Masehi atau tahun Jawa 1682 oleh Pangeran Mangkubumi Sukowati yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Letak geografis keraon terbentang antara Tugu sebagai batas utara dan Panggung Krapyak di batas selatan, Sungai Code di sebelah timur dan Sungai Winongo sebelah barat. Keraton apabila ditarik garis lurus ke utara akan bertemu di Gunung Merapi dan akan bertemu Laut Selatan bila ditarik garis lurus ke selatan, Kraton dalam pikiran masyarakat Jawa, diartikan sebagai pusat dunia yang digambarkan sebagai pusat jagad.

Asal nama keraton sendiri berasal dari kata Karaton, Keraton atau Kraton,jika di eja menjadi ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja. Sedangkan, seluruh struktur dan bangunan wilayah Kraton mengandung arti berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang essensial, yakni Sangkan Paraning Dumadi yang berarti dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati.
Keraton pertamakali ditempati oleh , Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Sri Sultan Hemengku Buwono Senopati Ingalogo Ngabdulrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah, sebelum menempati Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I tinggal di Ambar Ketawang Gamping, Sleman. Lima kilometer di sebelah barat Kraton Yogyakarta. Dari Ambar Ketawang Ngarso Dalem menentukan ibukota Kerajaan Mataram di Desa Pacetokan. Sebuah wilayah yang diapit dua sungai yaitu sungai Winongo dan Code. Lokasi ini berada dalam satu garis imajiner Laut Selatan, Krapyak, Kraton,dan Gunung Merapi.
Bangunan Kraton Yogyakarta sedikitnya terdiri tujuh bangsal. Masing-masing bangsal dibatasi dengan regol atau pintu masuk. Keenam regol adalah Regol Brojonolo, Sri Manganti, Danapratopo, Kemagangan, Gadungmlati, dan Kemandungan.
Kraton diapit dua alun-alun yaitu Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan. Masing-masing alun-alun berukurang kurang lebih 100x100 meter. Di alun-alun utara yang biasa di sebut ( altar) terdapat dua buah pohon beringin yang berada tepat sebelah utara keraton,dan terbentang jalan kecil yang membelah dua pohon beringin sampai jalan depan keraton. Dalam setiap keraton di Jawa, khususnya keraton-keraton setelah masuknya agama Islam, dapat dikatakan bahwa semuanya memiliki bagian/tempat yang disebut alun-alun. Alun-alun adalah bagian dari keraton yang merupakan tempat terbuka dan luas yang umumnya terletak di depan keraton. Alun-alun, sebagai tempat yang luas dan terbuka digunakan untuk berbagai keperluan seperti latihan ketangkasan dan ketahanan mental bagi prajurit, upacara-upacara kebesaran keraton seperti sekaten, tempat acara untuk hiburan rakyat, dan tempat mengumpulnya rakyat untuk menghadap raja/sultan.

Sedangkan alun-alun selatan atau dikenal dengan sebutan alkid (alun-alun kidul ) merupakan bagian dari wilayah Keraton Yogyakarta yang berupa tanah lapang/lapangan luas yang terletak di sebelah selatan keraton (masih dalam jeron 'dalam' benteng). Alun-alun Kidul sering pula disebut sebagai pengkeran. Pengkeran berasal dari kata pengker (bentuk krama) dari mburi 'belakang'. Hal tersebut sesuai dengan keletakan Alun-alun Kidul yang memang terletak di belakang keraton. Terletak di sebelah selatan Gedung Agung yang tersambung langsung ke bangunan keraton. Di alun-alun selatan ini ada dua buah pohan beringin yang mempunyai mitos yang sudah melekat di masyarakat yaitu hanya orang yang berhati bersihlah yang bisa lewat di antara pohon beringin tersebut dan barang siapa berhasil lewat diantara dua pohon beringin tersebut keinginan nya akan cepat terkabulkan.

Secara keseluruhan Kraton Yogyakarta berdiri di atas tanah 1,5 km persegi. Bangunan inti kraton dibentengi dengan tembok ganda setinggi 3,5 meter berbentuk bujur sangkar (1.000 x 1.000 meter). Sehingga untuk memasukinya harus melewati pintu gerbang yang disebut plengkung. Ada lima pintu gerbang yaitu Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan yang terletak di sebelah Timur Laut kraton, Plengkung Jogosuro atau Plengkung Ngasem yang terletak di sebelah Barat Daya, Plengkung Joyoboyo atau Plengkung Tamansari yang terletak di sebelah Barat, Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading terletak di sebelah Selatan, dan Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah Timur.Dalam benteng, khususnya yang berada di sebelah selatan dilengkapi jalan kecil yang berfungsi untuk mobilisasi prajurit dan persenjataan. Keempat sudut benteng dibuat bastion yang dilengkapi dengan lubang kecil yang berfungsi untuk mengintai musuh.

Penjagaan benteng diserahkan pada prajurit kraton. Prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibentuk pada masa pemerintahan Hamengkubuwono I sekitar abad 17. Tepatnya pada tahun 1755 Masehi. Prajurit yang terdiri atas pasukan-pasukan infanteri dan kavaleri tersebut sudah mempergunakan senjata-senjata api yang berupa bedil dan meriam. Selama kurang lebih setengah abad pasukan Ngayogyakarta terkenal cukup kuat, ini terbukti ketika Hamengkubuwono II mengadakan perlawanan bersenjata menghadapi serbuan dari pasukan Inggris dibawah pimpinan Jenderal Gillespie pada bulan Juni 1812. Di dalam Babad diceritakan bahwa perlawanan dari pihak Hamengkubuwono II hebat sekali. Namun semenjak masa Pemerintahan Hamengkubuwono III kompeni Inggris berhasil membubarkan angkatan perang Kasultanan Yogykarta. Dalam perjanjian 2 Oktober 1813 yang ditandatangani oleh Sultan Hamengkubuwono III dan Raffles, dituliskan bahwa Kesultanan Yogyakarta tidak dibenarkan memiliki angkatan bersenjata yang kuat. Dibawah pengawasan Pemerintahan Kompeni Inggris, keraton hanya boleh memiliki kesatuan-kesatuan bersenjata yang lemah dengan pembatasan jumlah personil. Sehingga tidak memungkinkan lagi untuk melakukan gerakan militer. Maka sejak itu fungsi kesatuan-kesatuan bersenjata sebatas sebagai pengawal sultan dan penjaga keraton.

Ketika Pemerintahan Kolonial Belanda kembali berkuasa pasukan-pasukan bersenjata yang sudah lemah tersebut makin dikurangi sehingga tidak mempunyai arti secara militer. Menurut catatan yang ada, semasa pemerintahan Hamengkubuwono VII sampai dengan masa pemerintahan Hamengkubuwono VIII yaitu antara tahun 1877 sampai dengan 1939 ada 13 kesatuan prajurit kraton yang meliputi: Kesatuan Sumoatmojo, Ketanggung, Patangpuluh, Wirobrojo, Jogokaryo, Nyutro, Dhaeng, Jager, Prawirotomo, Mantrijero, Langenastro, Surokarso dan Bugis.

Pada tahun 1942 semua kesatuan bersenjata keraton Yogyakarta dibubarkan oleh pemerintahan Jepang. Tetapi mulai tahun 1970 kegiatan para prajurit keraton dihidupkan kembali. Dari ke tiga belas prajurit yang pernah ada baru sepuluh kesatuan atau bergada yang direkonstruksi dengan beberapa perubahan, baik dari pakaiannya, senjatanya maupun jumlah personil. Kesepuluh kesatuan prajurit tersebut yaitu: Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaeng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Mantrijero, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Ketanggung, Prajurit Nyutro, Prajurit Surokarso dan Prajurit Bugis. Dewasa ini, kesepuluh kesatuan prajurit tersebut masih dapat dilihat oleh masyarakat umum paling tidak se tahun tiga kali, yaitu pada upacara Garebeg Mulud, Garebeg Besar dan Garebeg Syawal, di alun-alun utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sedangkan sistem pemerinahan Keraton Ngayogyakarta berbentuk kerajaan ( sebelum bergabung dengan republik indonesia ) yang dipimpin oleh seorang sultan yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono. Berikut ini adalah nama sultan yang memerintah di keraton kasultanan ngayogyakarta dari sultan yang pertama (Sri Sultan Hamengku Buwono I) sampai sekarang (Sri Sultan Hamengku Buwono X ) :

Masa pemerintahan Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono I (GRM Sujono) memerintah tahun 1755-1792


Sri Sultan Hamengku Buwono II (GRM Sundoro) memerintah tahun 1792-1812

Sri Sultan Hamengku Buwono III (GRM Surojo) memimpin tahun 1812-1814

Sri Sultan Hamengku Buwono IV (GRM Ibnu Djarot) memerintah tahun 1814-1823

Sri Sultan Hamengku Buwono V (GRM Gathot Menol) memerintah tahun 1823-1855

Sri Sultan Hamengku Buwono VI (GRM Mustojo) memerintah tahun 1855-1877

Sri Sultan Hamengku Buwono VII (GRM Murtedjo) memerintah tahun 1877-1921

Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (GRM Sudjadi) memerintah tahun 1921-1939

Sri Sultan Hamengku Buwono IX (GRM Dorojatun) memimpin tahun 1940-1988

Sri Sultan Hamengku Buwono X (GRM Hardjuno Darpito) memimpin tahun 1989 - sekarang